Apa sebenarnya PHK dan Pensiun

By | October 8, 2015

Apa sebenarnya PHK dan Pensiun – Pemutusan hubungan kerja atau PHK dan pensiun adalah bagai dua keping mata uang yang sama. Sama-sama identik menjadikan adanya pengangguran tambahan. Apa itu benar? Lihat dulu latar belakang persoalannya. Jika anda termasuk orang yang terkena PHK dan pensiun apakah benar benar akan menambah daftar panjang pengangguran di negeri ini?

Banyak anggapan bermunculan. Misalnya, bisa saja mendapatkan pesangon sehingga babi yang terkena PHK tersebut bisa melanjutkan dengan berwirausaha dalam bidang tertentu. Sama halnya dengan pensiun. Meskipun tidak begitu banyak uang pensiun yang didapat, masih bisa digunakan untuk modal berwirausaha di bidang tertentu.

Hanya saja, persoalannya seringkali tidak sesederhana itu. Ketika seseorang pegang uang dari pesangon PHK atau uang pensiun malah bingung mau dikemanakan uangnya mengingat belum berpengalaman untuk berwirausaha. Atau juga bingung karena uang pesangon PHK nya kecil. Belum lagi masih ada imbas terkena serangan psikis, entah karena belum siap di PHK atau karena alasan-alasan tertentu lainnya.

Tentu saja, hal tersebut tetap harus diatasi. Karena hidup tidak pernah. Begitu saja. Hidup harus terus bergulir. Untuk itulah, maka ada banyak cara untuk membebaskan diri dari kegamangan akibat cemas karena PHK atau pensiun. Memang,hk begitu menghantui para pekerja bukan hanya di indonesia tetapi hampir di semua bagian negara di dunia.

Fenomena yang mengerikan ini bisa saja akibat dari ulah krisis ekonomi global yang hebat dan mengakibatkan banyak pengusaha atau perusahaan tersungkur sehingga memaksa mereka melakukan penghematan termasuk pengurangan jumlah pekerja. Kondisi ini memang seharusnya disikapi dengan baik agar semua pihak tidak lebih dalam mengalami keterpurukan.

PHK yang sebenarnya artinya adalah pemutusan atau pengakhiran hubungan kerja karena suatu hal tertentu yang mengakibatkan berakhirnya hak dan kewajiban antara pekerja dan pengusaha. Hanya saja, pengertian ini kerap disalahartikan. Seolah-olah jika seseorang di PHK maka orang tersebut telah berbuat suatu kesalahan yang berakibat dipecat. Padahal PHK dapat terjadi karena bermacam sebab. Intinya tidak persis sama dengan pengertian dipecat.

Ada berbagai jenis PHK yang perlu dipahami. Misalnya, PHK pada kondisi normal. Dalam kondisi normal, PHK akan menghasilkan suatu keadaan yang sangat membahagiakan. Setelah menjalankan tugas dan melakukan peran sesuai dengan tuntutan perusahaan dan pengabdian kepada organisasi maka tiba saatnya seseorang memperoleh penghargaan yang tinggi atas jerih payah dan usahanya. Akan tetapi, hal ini tidak terpisah dari bagaimana pengalaman bekerja dan tingkat kepuasan kerja seseorang selama memainkan peran yang dipercayakan kepada nya.

penyebab PHK atau pensiun

penyebab PHK atau pensiun

Bilamana seseorang mengalami kepuasan yang tinggi pada pekerjaannya, maka massa PHK atau justru pensiun ini harus dinilai positif. Artinya ia harus ikhlas melepaskan segala atribut dan kebanggaan yang disandang selama melaksanakan tugas dan bersiap memasuki masa kehidupan yang tanpa peran.

Terdapat beberapa faktor yang mempengaruhi penyesuaian diri seseorang terhadap masalah PHK atau pensiun diba, yaitu:

Pensiun secara sukarela dan terencana/ pensiun secara terpaksa dan tergesa-gesa

Orang yang pensiun secara sukarela dan terencana mempunyai pandangan yang positif terhadap pensiunnya. Orang yang harus menjalani pensiun secara terpaksa pastilah akan merasa berat menghadapinya.

Perbedaan individu

Perbedaan individu yang didasari oleh faktor kepribadian, yaitu orang yang berpandangan luas dan fleksibel dapat menerima status baru sebagai pensiunan dan dapat beradaptasi dengan situasi yang baru

Perencanaan dan persiapan individu sebelum masa pensiun datang

Dalam hal ini, seseorang telah mempersiapkan diri secara matang dengan berbagai kegiatan sebelum masa pensiun tiba. Secara mental dan material orang menjadi lebih siap jika ia sudah mempunyai rencana.

Situasi lingkungan

Pensiunan yang tinggal di lingkungan sesama pensiunan pastilah memiliki semangat atau keyakinan diri yang lebih tinggi daripada pensiunan yang tinggal di lingkungan kawasan masyarakat umum.

Jika yang terjadi adalah kategori PHK atau pensiun dalam kondisi normal ini, maka ada beberapa hal yang perlu dipersiapkan lebih dini, misalnya:

Tahap pertama

Seseorang seharusnya sudah merencanakan jauh hari sebelum masa pensiun menjelang. Namun, yang biasanya hanya sedikit yang menyadari hal itu. Demikian pula orang yang mengharapkan tetap bekerja sampai ajalnya tiba. Menjelang tibanya masa pensiun terdapat dua unsur penting yang harus dimiliki seseorang, yaitu kesiapan finansial dan mempersiapkan keahlian untuk mengatur waktu luang.

Tahap kedua

Ketika masa pensiun ini benar-benar menjadi kenyataan, bagaimana merasakan hari-hari yang berbeda dengan hari-hari biasanya. Tidak lebih aktif bekerja dan sebagainya.

Tahap ketiga

Banyak orang menyebut periode ini sebagai masa bulan madu. Pada tahap ini orang menemukan kebebasan baru, pola hidup yang berbeda sama sekali dari kebiasaan yang puluhan tahun telah dijalani. Dalam beberapa kasus, jika dari segi finansial mengijinkan, maka seseorang yang pensiun bisa melakukan perjalanan wisata, memancing, bermain golf, mengunjungi dan menengok cucu di kota lain, dan kegiatan lain yang membutuhkan biaya.

Tahap keempat

Memasuki tahap ini diharapkan seseorang dapat menyusun gaya hidup dan irama kehidupan yang dapat dilaksanakan untuk beberapa tahun kedepan. Lembaga yang dapat membantu untuk mencari dan mengembangkan kegiatan ialah organisasi sosial yang beranggotakan para lansia, paguyuban pensiunan, dan tentu saja lembaga-lembaga keagamaan.

Lembaga ini dapat menawarkan bagaimana bentuk keterlibatan para pensiunan dilihat dari waktu, tingkat, dan kualitas kegiatannya. Ini akan menyangkut eksplorasi kesempatan kesempatan berkreasi yang baru dan membuat keputusan yang realistik berdasarkan pada minat dan keahlian masing-masing orang.

Ada juga PHK atau pensiun dalam kategori tidak normal. Hal ini terjadi apabila perkembangan suatu perusahaan merasa terombang-ambing oleh pasar, dampak dari perusahaan ini adalah PHK. Selain itu karena adanya kasus-kasus tertentu, contohnya:

Dismissal

PHK karena karyawan melakukan tindakan pelanggaran disiplin yang telah ditetapkan. Misalnya karyawan melakukan kesalahan seperti mengonsumsi alkohol atau obat obat psikotropika, madat, melakukan tindakan kesehatan, merusak perlengkapan kerja milik pabrik, dan sebagainya.

Redundansi

PHK karena perusahaan melakukan pengembangan dengan menggunakan mesin mesin berteknologi baru, seperti menggunakan robot robot industri dalam proses produksi, penggunaan alat-alat berat yang cukup dioperasikan oleh satu atau dua orang untuk menggantikan sejumlah tenaga kerja. Tentu, hal ini berdampak pada pengurangan tenaga kerja.

Retrenchment

PHK yang dikaitkan dengan masalah masalah ekonomi, seperti resesi ekonomi dan masalah pemasaran sehingga perusahaan tidak mampu memberikan upah kepada karyawannya.

Menurut flippo, seorang ahli di bidang ketenagakerjaan, PHK di luar konteks atau pengertian pensiun dibedakan menjadi 3 kategori, yaitu:

Layoff

Hal ini terjadi ketika seorang karyawan yang benar-benar memiliki kualifikasi membanggakan harus di purnatugas kan karena perusahaan tidak lebih membutuhkan sumbangan jasanya.

Outplacement

Hal ini disebabkan karena perusahaan ingin mengurangi banyak tenaga kerja, baik tenaga profesional, manajerial, maupun tenaga pelaksana biasa. Pada umumnya perusahaan melakukan kebijakan ini untuk mengurangi karyawan yang performasinya tidak memuaskan, orang-orang yang tingkat upah nya telah melampaui batas yang dimungkinkan habaib dan orang-orang yang dianggap kurang memiliki kompetensi kerja, serta orang-orang yang kurang memiliki kemampuan yang dapat dikembangkan untuk posisi di masa mendatang.

Discharger

Hal ini disebabkan karena karyawan dianggap kurang mempunyai sikap dan perilaku kerja yang memuaskan. Karyawan yang mengalami jenis PHK ini kemungkinan besar akan mengalami kesulitan mendapatkan pekerjaan baru di tempat atau perusahaan lainnya.

Dari dua pengertian tersebut diatas, secara tegas tampak bahwa masalah PHK memang dapat disebabkan oleh dua pihak. Baik penyebab yang berasal dari kualifikasi, sikap dan perilaku karyawan yang tidak memuaskan atau penyebab yang berasal dari pihak manajemen perusahaan.

Artikel Terkait Yang Perlu Anda Baca:

Apa sebenarnya PHK dan Pensiun was last modified: October 8th, 2015 by admin